Wattpad

Showing posts with label Jambi. Show all posts
Showing posts with label Jambi. Show all posts

ANTU PIRAU = ORANG PENDEK (bukan HOAX)


 
“AI...MUNCUNG KAU NI
CUBO LA DI PIKIR SEBELUM BECAKAP.
 JANGAN MACAM ANTU PIRAU MANJANG”


Bagi orang Jambi, khususnya saya, Pasti tau dong ya mengenai Hantu fenomenal di kawasan taman Nasional ini.  Saya  sangat Akrab dengan panggilan yang satu ini. Tak lain tak bukan adalah ibu saya tersayang yang suka sekali menjuluki saya dengan panggilan sayang yang bernilai tiada tara tersebut.
Saya sendiri sebenarnya kurang tau banyak mengenai Orang pendek ini. Sejak kecil, saat saya masih sering berkunjung ke kampung ibu di wilayah Dusun Mudo kabupaten tanjung Jabung Barat, almarhum Nenek sering sekali mengingatkan, “Jangan main jauh-jauh, nanti du culik antu pirau!” seringkali saya bertanya kepada Ibu saya mengenai sosok antu Pirau tersebut. Maka tersebutlah legenda mengenai makhluk ini dalam dongeng-dongeng sebelum tidur saya di masa kecil.


Antu pirau tu badannyo kecik. 
Tumitnyo tebalek. 
Kalau belari cepat nian.
Yang di omonginyo mencarut bae!”
(Antu pirau itu bertubuh kecil, 
konon tumitnya berada di depan. 
Larinya cepat. 
Kalau berbicara seperti mencaci maki)

 Maka terpatrilah di benak saya mengenai sosok Antu pirau ini dalam kenangan yang sangat mudah di bangkitkan. Bukan hanya kenangan masa kecil saja. Setelah tumbuh dewasa, saya cukup di kenal sebagai wanita bermulut Labil (alias suka mencaci maki) Sehingga cerita antu Pirau itu bukan lagi sekedar dongeng, melainkan julukan untuk sifat tidak lazim yang saya miliki itu. Konon menurut orang tua-tua yang pernah bertemu dan berbicara dengan mereka, orang pendek senang sekali berbicara tanpa henti dan menuntut kita untuk mendengarkan cacian mereka. (terdengar seperti makhluk yang egois sekali bukan? Sama seperti saya. Haahhaha)
Antu Pirau dan Orang pendek sebenarnya digambarkan dengan bentuk yang sama, hanya saja, seiring berkembangnya zaman, Hantu Pirau kok jadi disamakan dengan kuntil anak, pocong dan suster ngespot  ya? Pernah beberapa tahun lalu ada pertunjukan rumah hantu di Jambi tomsquare mengenai Antu Pirau, penggambarannya sma sekali jauh dari Legenda yang ada di benak kanak-kanak saya. Di dalam hati, saya tidak terima. Bagi saya (Selain julukan pribadi dan kenangan yang terkait dengan keseruan di masa kecil) Hantu pirau atau orang pendek itu merupakan kekayaan Alam yang tidak bisa di remehkan. Jadi saya lebih memilih untuk tetap mempertahankan penggambaran Hantu pirau  sebagai Orang Pendek yang melegenda di Provinsi Jambi.
Provinsi Jambi adalah salah satu provinsi dengan Taman Nasional terbanyak di indonesia. Tidak kurang dari empat  buah taman Nasional hidup dan berkembang di kota Jambi. Taman Nasional ini merupakan tempat berkembang biak tumbuhan, hewan dan makhluk-makluk lain yang langka secara aman karena di lindungi oleh Pemerintah. Bahkan salah satu Tribe yang cukup di kenal di sumatra berlindung di Taman Nasional ini. Yakni suku Anak Dalam alias Kubu (dalam bahasa masyarakat kita).
 
Selain suku Anak Dalam, ada sebuah legenda misterius yang berkembang di kawasan gunung tujuh mengenai sosok orang pendek yang di analisir hidup di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) meskipun banyak pengakuan mengenai keberadaan orang pendek di tempat lain., namun penelitian mengenai orang Pendek ini seringkali di fokuskan di Taman Nasional Kerinci Seblat.
Belum di ketahui hingga saat ini apakah orang Pendek ini benar-benar ada atau hanya mitos. Beberapa penemuan Fosil di anggap sebagai Fosil kera belaka. Padahal kalau di fikir-fikir, dengan banyaknya wilayah Taman Nasional di Indonesia (khususnya di sumatra) bukan hal mustahil jika masih di temui spesies-spesies yang belum pernah tercatat dalam sejarah manusia. Orang pendek bisa jadi merupakan spesies manusia yang belum tercantum dalam peta besar spesies manusia Carolus Lineaus.
Orang pendek pada akhirnya tidak lagi hanya menjadi legenda.  Peneliti Edward Jacobson pada awal abad 20, tepatnya tanggal 21 agustus 1915 berbicara mengenai teorinya yang menemukan sekumpulan jejak misterius di danau Bento, di tenggara gunung kerinci. Mengenai jejak sepanjang lima inchi itu, pemandunya Mat Getoep menyatakan bahwa jejak itu adalah milik orang pendek. Pada desember 1917, seorang manager perkebunan teh bernama Oostingh mengaku bertemu dengan orang Pendek yang melarikan diri ke dalam semak lalu menghilang.  Deborah Martyr pada 1989 menemukan jejak orang pendek di TNKS lalu mencetaknya dengan Gips dan mengirimnya ke  badan pemerintahan yang mengurus taman Nasional. Namun  cetakan itu hilang. Pada 30 september 1994, akhirnya Deborah Martyr melihat sosok orang pendek ini dengan mata kepalanya sendiri. Menurutnya orang pendek tersebut berjalan dengan tenang sebelum akhirnya menoleh kepada Martyr lalu menghilang ke dalam hutan. (Enigma)
Para peneliti mendapati kemajuan pada tahun 2001 saat rombongan peneliti amatir dari inggris yang di pimpin Adam Davies akhirnya menemukan jejak orang pendek dan mengirimkan cetakan tersebut ke Cambridge. Cambridge sendiri menyatakan tidak yakin dengan jenis cetakan jejak itu. Menurut mereka jejak itu merupakan gabungan karakter dari jejak gibon, orang utan, simpanse dan manusia. Berbekal laporan itu, pada akhirnya tim penelitian yang lebih profesional bertajuk CFZ (centre for Fortean Zoology) sengaja di kirim ke Kerinci untuk mencari keberadaan orang Pendek. Dalam penelitian yang di lakukan pada tahun 2009 itu, pencarian orang pendek masih tidak bergerak dari Jejak dan penampakan secara tidak sengaja saja. Hingga kini Orang pendek masih menjadi Legenda yang di cari-cari keberadaannya. Keberadaan orang Pendek yang begitu misterius ini masih membuat dunia begitu penasaran. Menelisir Taman Nasional saja tidak dengan serta merta membuat paneliti menemukan orang habitat orang Pendek ini.
Menurut Hemat saya, orang pendek mungkin hidup nomaden seperti suku anak dalam. Mereka berpindah pindah tempat sehingga keberadaan pastinya sulit di tangkap. Namun seiring dengan waktu, suku Anak dalam kini sangat mudah di Jumpai di wilayah-wilayah pedesaan Jambi, (Ada juga yang sampe masuk kota dan belajar ngemis—mirisnya kekayaan alam kita! Karena taman Nasional mulai di buka dan mereka kehilangan rumah) tapi orang Pendek masih saja misterius dan tidak tampak. Saya sendiri ragu apakah sebaiknya Orang Pendek ini di temukan atau tidak. Saya malah khawatir jika pemerintah tidak mampu menangani mereka sebagaimana kelalaian terhadap penangan suku Anak dalam di provinsi Jambi jika spesies baru ini di temukan.  Terkadang lebih baik tidak di ketahui dan mereka hidup dengan aman daripada di ketahui kemudian punah, bukan?  Apapun yang terjadi nanti, (Sok romantis) saya harap kebaikanlah yang terjadi untuk suku tradisional di wilayah jambi, juga harimau sumatranya, apa lagi orang Pendeknya ya. :D



Banjir antara Jakarta dan Jambi

Jakarta banjir? gak aneh emang. keinget dulu januari 2010 (atau 2011 ya? gak inget) sewaktu merangkak mau ke kedubes amerika di merdeka selatan. dari Jambi udah booking pesawat di tanggal tertentu sekalian tiket buat pulang. eh ternyata di tanggal yang di tentukan, merdeka selatan kebanjiran. dua hari menjelang keberangkatan was wasnya minta ampun. akhirnya tiket di reschedule lagi, mundur seminggu setelahnya. Pagi ini saia liat berita lagi di Jakarta Globe dan menampilkan foto ini:

bagi saya pemandangan ini adalah pemandangan tiga atau empat tahun lalu. meskipun berita kebanyakan lebih suka menggambarkan bahwa banjir di gambar ini adalah keadaan saat ini.

Jauh di dalam hati ngedumel tentang betapa parahnya Jakarta sekarang. Richard gak berangkat ngajar. Baba gak sekolah, kesian. Jakarta bisa di bilang banjir setiap tahun ya? tapi kok masyarakatny gak belajar-belajar. terus masyarakatnya suka bully dan manja. Manja karena cuma nungguin uluran tangan dari pemerintah buat ngatasin banjir, sendirinya gak punya inisiatif menghadapi banjir. Bully karena maunya nyalahin oraaaaang aja. pemerintah di salahin mulu padahal gak kurang-kurangnya mereka juga buang sampah sembarangan.
Pagi ini terlibat obrolan dengan kawan dari Jambi di FB tentang Banjir di Jambi ( di Jambi banjir?) Ya. Jambi Banjir juga. Tapi gak heboh kaya jakarta. masyarakat jambi cendrung siap padahal banjir di jambi gak setiap tahun. banjir di jambi bisa di bilang gak musiman kaya di jakarta, terjadinya cuma kalo lagi Apes. itupun persiapan masyarakat mateng banget. misalnya: posisi rumah lebih tinggi dari jalan. jadi kalau ada aer yang lebih, ngalir di jalan2 dulu sampe ke batang hari. untung wilayah tertentu, masyarakat membangun rumah panggung. Jadi meskipun bajir, air tetap gak masuk rumah dan gak ngerusak barang elektronik. jadi, gak ada yang mati kesetrum kaya berita simpang suir pagi pagi. untuk alat transportasi, beberapa orang punya perahu kayu. jadi kegiatan tetap berjalan meskipun banjir. Ada lagi, di Candi muaro jambi, biasanya ada Festival lomba perahu. di beberapa tempat lain kadang ada lomba mancing lah, lomba perahu (juga_ lah dan masih banyak lagi. jauh di lubuk hati paling dalam saya  Akhirnya ngerti kenapa orang jambi gak sensitipan. bahkan saat banjir melanda aja masih berbahagia main perahu. (senang jadi budak Jambi)
Sewaktu saya kecil kalau yang namanya banjir rame2 berenang di air yang tergenang. main perahu sore2 sehabis mandi. dulu bapak waktu masih dinas di Tahtul Yaman, dari Mudung (rumah saya di sekoja) ke TY bisa di tempuh dengan perahu. hutan-hutan yang gak bisa di lewati, kalau banjir jadi bisa di lewati. pokoknya bagi saya kenangan banjir bukan kenangan buruk. Tapi sepertinya orang-orang di ibu kota enggak begitu.
Jadi menurut kalian gimana ibu kota tercinta ini? siapakah yang patut di salahkan? keadaan kita gak akan berubah kalau bukan diri kita sendiri yang ingin berubah. buat ibu-ibu yang pagi ini ngedumel di tipi tentang betapa pemerintah gak mau tau tentang keadaannya yang di alami setiap tahun, pliss. coba di fikir apa yang sudah kita buat untuk diri kita sendiri dulu? kita gak bisa mengharapkan bantuan dari orang lain kalau kita juga gak suka usaha untuk membantu diri kita sendiri.

Maksubah bukan dari Jepang (Panganan yang menentukan status sosial seseorang)

Sekilas Namanya agak jepang-jepangan ya. Maksubah, kedengaranya agak japanese kaya tsubasa yang ada di komik-komik itu. hahahaha
Saya kemarin duduk bercakap-cakap dengan Mbak Rhaina yang suaminya orang Palembang. (Kalau palembang+Jambi ketemu pasti Heboh, secaraaa...makanannya sebelas dua belas, bahasanya mirip pulak. kalau ngerumpi, sekampung wajib denger karena Jambi dan Palembang sama-sama intense dalam percakapan sehari-hari)--Gak nyangka selama di rantau ada orang yang bisa di ajak ngerumpi soal Makanan--hal yang paling saya rindukan dari kampung halaman. Kala itu kita bicara mulai dari hidung saya yang Mampet. biasanya kalau udah mulai pilek saya mulai pengen makan tekwan* pedes-pedes. Mang Jaja di simpang Pulai tempat favorite saya di jambi. selain tekwannya OK, yang punya juga ramah sekali. hampir setiap ada uang lebih saya selalu mampir kesana. ada sih tempat lain yang memang lebih enak. Tapi ke sreg-an saya terhadap makanan bukan hanya dari rasa. 
Lama-lama obrolan kita merembet ke Maksuba. Maksuba ini salah satu makanan khas melayu juga selain tempoyak. bahan pokoknya mudah kok. Telur+ gula. beberapa orang menambahkan tepung dalam pembuatannya, tapi kalau saya yang buat, saya cendrung tidak menambahkan tepung sama sekali sehingga rasanya lebih berat dan lebih nikmat. maksuba yang di campur tepung biasanya lebih ringan dan kering. sedangkan maksuba yang hanya dibuat dengan telur dan gula saja, cendrung basah dan lengket. sewaktu di awal perkuliahan di mulai, saya pernah meminta ibu saya mengajari saya bagaimana cara membuat Maksuba. masa itu ibu mengerjai saya, Jadilah saya membuat Maksuba manual dengan arang dari batok kelapa. sedangkan dengan oven saja bisa. Jadi saya mengerti mengapa Maksuba harganya mahal. pembuatannya begitu susah payah dan saya harus bergosong-gosong ria duduk di depan Api ber-jam-jam, menjaga Nyala Api. selapis demi selapis...(alah maaak kenangan Indah)

maksuba yang ini tampaknya di buat dengan tepung. didapat dari google

Maksubah adalah faktor utama yang menyebabkan berat badan saya naik lebih dari lima kilogram setiap idl fitri datang. padahal prestasi sekali kalau saya bisa menurunkan sekitar 3 kg selama bulan puasa. tapi setelah lebaran, kenaikannya lebih besar dari penurunan. tubuh saya pun semakin-semakin-semakin dan semakin semok dari tahun ke tahun.
Ceritanya mbak Raina mau di kirimi mertuanya Maksubah dari Palembang. saya pun ngedumel kalau Maksubah di Jambi kebanyakan di temui waktu lebaran. kalau sudah memasuki masa-masa Idl Fitri, setiap rumah berlomba-lomba membuat Maksuba. konon Maksuba menentukan status sosial seseorang. cara mereka menyajikanpun juga mempengaruhi, warnapun juga ikut-ikutan. Ajaib gak? 
Apa iya penyajian maksubah pada hari raya menentukan status sosial seseorang? 
Sewaktu saya kecil, penyaji Maksuba ini adalah keluarga-keluarga Melayu yang berada. tidak semua rumah menyajikan Maksuba pada masa itu karena biaya bahan bakunya yang tergolong mahal. modal pembuatan seloyang maksuba bisa menghabiskan seratus-beratus-ratus ribu rupiah. kelembutan, tekstur dan komponen yang terdapat di dalamnya (apa itu komponen? memangnya pesawat terbang?) juga menentukan status sosial.
Rumah yang menyajikan Maksubah dari satu jenis (dalam kategori warna dan rasa, pembuatan seloyang Maksuba memaksa adonan di bagi dua. biasanya untuk memberikan kesan berlapis. setelah di bagi dua, salah satu adonan bisanya di bubuhkan perisa dan pewarna sehingga Maksubah tampa begitu cantik) biasanya status sosialnya tidak lebih tinggi dari yang menyajikan dua jenis maksuba dalam sekali waktu. 
Misalnya nih, saya berkunjung ke rumah salah seorang Datuk yang punya banyak tanah, mereka menyajikan maksuba coklat, Pandan dan Kuning dalam satu waktu dan penyajian biasanya terkesan boros, (untuk satu jenis Maksubah di sajikan lebih dari satu piring saji) dan yang melahap apa lagi (hahaha. kapan lagi, makan kue mahal gratis)
Bagi keluarga saya, dulu menyajikan seloyang maksubah saja sudah cukup. itupun penyajiannya di hemat, hanya di keluarkan untuk tamu-tamu penting saja. jika di sebuah Hari Raya keuangan keluarga tidak memadai, kami tidak menyajikan Maksuba sama sekali. siapa yang gila menyajikan Maksuba sedangkan seloyang Maksuba sama nilainya dengan 7 Toples besar kue mentega? seloyang Maksuba tidak bisa di keluarkan setiap saat sedangkan & toples kue mentega, bisa di santap oleh siap saja dalam waktu lima hari. 
Belakangan saat keuangan keluarga membaik, Ibu tetap menyajikan satu loyang (mengingat loyang lainnya di santap kedua anaknya dengan brutal. saya dan Dan adik saya, Kurnia adalah penggila makanan Manis. Tapi saya makan Tanpa Batas, berbeda dengan adik saya yang cukup dengan lima potong dan muntah jika di paksakan makan sampai potongan ke delapan). 
Saat ini Maksuba masih tergolong kue Mahal, namun setiap rumah bisa saja menyajikannya. Semenjak Maksuba sudah bisa di masak dengan Oven, harganyapun menurun. Maksubah bisa di beli dengan harga seratus atau dua ratus ribu saja. Tapi dengan harga segitu, untuk seloyang Kue bagi saya masih tetap mahal. dua ratus ribu bahkan tidak akan bisa memuaskan perut saya sendiri. hihihi

Tekuluk Jambi (Cantik versi Jambi)

Jaman dulu sewaktu masih sering main ke sebrang* saya seringkali mendengar datuk-datuk disana bercerita seperti ini:
"Gadis jaman dulu manolah samo dengan gadis jaman kini. Jaman kini lah becelano singkat. perut sengajo nian di nampak-nampak-an. lah dak tentu lagi mano yang gadis nian mano yang cak icak jadi gadis be! Jaman dulu, anak gadis kalau bejalan keluar tu kepalaknyo betutup pakai kain, nampak Jantan di Jalan pegi besingit-an, malu. Anak jaman kini sengajo nian belari ke tengah jalan supayo nampak Jantan!"
Di dalam otak saya yang terbersit adalah, "cemano bentuk kepalak betutup dengan kain?" apakah kepala di selubungi sarung hingga hanya mata saja yang terlihat, atau bagaimana? Jaman saya kuliah, Ratu Munawaroh* sedang Gencarnya mempromosikan tekuluk. beliau bahkan menerbitkan buku tutorial penggunaan tekuluk sehingga Tekuluk Jambi cukup di kenal dan di gunakan dalam berbagai pergelaran busana Nasional khususnya Batik dan Kebaya.
Selain itu juga, bersama dengan di angkatnya bapak menjadi Aparat pemda masa itu, saya menajdi lebih mengenal tekuluk karena mama harus mengenakan Tekuluk di setiap Event yang harus di hadiri bersama Bapak. mama pada dasarnya yang orang melayu memang Ratunya batik Jambi, koleksi Batik mama lumayan banyak, nyaris memiliki setiap motif dan saat penggunaan tekulung di wajibkan bagi PKK pemda Jambi, mama tidak perlu merasa kesulitan untuk mencari bahan yang akan di gunakan sebagai tekuluk.

Penampakan Tekuluk: Ayuk-ayuk ni make tengkuluk dalam acara beauty pagean jambi. Tekuluk saat ini menjadi busana wajib yang di gunakan di Jambi dalam berbagai event

Sekilas Tekuluk tampak tidak ada bedanya dengan penggunaan pasmina turban style yang lagi booming sekarang (karena Indah Nada Puspita), hanya saja tekuluk menggunakan kain batik Jambi. akhirnya saya tau apa yang di maksud datuk itu dengan kepala bertutup Kain. awalnya saya tidak begitu tertarik dengan tekuluk. namun di suatu hari ketika bapak saya datang mengunjungi saya di Jakarta, (berfikir bukan hanya akan bertemu ayah namun juga relasinya) maka saya ambil kain terdekat saya untuk di kenakan di kepala. saat itu Richard bilang kalau saya kelihatan Cantik *blushingAKAmerahpipi. Sayapun jadi berfkir lagi tentang anggapan norak penggunaan tekuluk yang pernah saya fikirkan semasa dulu. Setiap daerah punya ciri Khas. Dan dalam budaya jambi, penggunaan Tekuluk termasuk cara bersolek yang menonjolkan kecantikan, keanggunan dan Martabat pemakainya.





NOte:
Ratu Munawaroh adalah Istri gubernur Jambi Zulkifli Nurdin. Selama dua periode masa  jabatan suaminya, ibunda ratu bagaimana ia biasa di panggil selalu berusaha membangkitkan kebudayaan dan kepedulian masyarakat berkaitan dengan keperempuanan dan anak-anak.

Be-Batik Jambi

Empat wanita asal Tennessee, Amerika Serikat belajar membatik
Di Kreasi Batik Asmah,
Milik Azmiah di Jl H Somad No 41, Olak Kemang, Danau Teluk Jambi



Batik sebagai warisan budaya Indonesia telah mendapat pengakuan dunia dengan ditetapkannya Batik sebagai warisan budaya Indonesia dan benda milik Bangsa Indonesia oleh Badan Dunia PBB UNESCO 2 Oktober 2009. Sehingga tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasioanal.
Sejarah 
Kain batik dibawa dan diperkenalkan pertama kali di daerah Jambi oleh Haji Muhibat pada tahun 1875. Saat itu, ia berserta keluarganya datang dari Jawa Tengah untuk menetap di Jambi. Pada masa itu produksi batik Jambi dan perdagangannya secara terbatas pada kaum bangsawan dan raja Melayu Jambi sebagai pakaian adat. Motifnya pun masih sangat terbatas, bercorak ukiran seperti yang ada pada rumah adat Jambi. Di masa ini batik Jambi merupakan hasil karya seni yang tidak dapat dimiliki oleh sembarang orang. Batik Jambi di konsumsi hanya oleh masyarakat yang mempunyai tingkat kehidupan sosial yang tinggi, misalnya kerabat kerajaan atau kaum bangsawan. Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi, kebutuhan akan batik Jambi menurun secara drastis, sehingga jarang ditemukan ada pengrajin batik Jambi. kalaupun ada, pengrajin itu sudah tua.
Pada zaman penjajahan Belanda, berita tentang batik Jambi marak kembali dengan munculnya berbagai artikel yang ditulis oleh penulis berkebangsaan Belanda. Salah satunya adalah B.M. Gosligs yang dalam artikelnya mengatakan bahwa atas persetujuan Prof. Vam Eerde dia meminta residen Jambi Tuan H.E.K. Ezermenn untuk meneliti batik Jambi. Sekitar bulan oktober 1928 datang tanggapan dari Ezernann, bahwa di dusunkampung Tengah (kelurahan Tengah) pada waktu itu memang sesungguhnya ada pengrajin batik dan menghasilkan karya-karya seni batik yang Indah. (B.M Goslings halaman 1411)
Dari keterangan di atas, sejak zaman Kesultanan, zaman Belanda, zaman Kemerdekaan di Jambi memang terdapat seni batik, walaupun produksi dan pemakaiannya masih terbatas. Setelah zaman orde baru terutama sejak tahun 80-an hingga sekarang, perkembangan batik Jambi sangat pesat sekali. Pembinaan terhadap sanggar-sanggar batik, dilakukan secara intensif dan massal. Pemakaian batik Jambi tidak lagi terbatas pada kalangan-kalangan tertentu tetapi sudah memiliki kebebasan. Batik Jambi menjadi milik masyarakat dan kebanggaan bangsa Indonesia dan dikenal bukan hanya di Indonesia tetapi sampai ke manca Negara.
Nama-nama Motif Batik Jambi
Batik Jambi memiliki ciri khas yang unik dan eksotis. Baik dari segi warna maupun motifnya sediri. Sebagian besar pewarnaan batik Jambi diambil dari bahan-bahan alami yang ada di alam sekitar Jambi, yaitu campuran dari aneka ragam kayu dan tumbuh-tumbuhan, seperti :
  • Kayu Sepang menghasilkan warna kuning kemerahan.
  • Kayu Ramelang menghasilkan warna merah kecokelatan.
  • Kayu Lambato menghasilkan warna kuning.
  • Kayu Nilo menghasilkan warna biru.
  • dsb
Motif batik Jambi sebagian besar diambil dari bentuk flora dan fauna, sebagai mana motif batik yang terdapat di Indonesia pada umumnya. Namun dilihat dari bentuk motif corak dan pewarnaannya, batik Jambi memiliki perbedaan signifikan dibandingkan dengan batik yang ada di daerah lain.
Keunikan seni batik Jambi terletak pada kesederhanaan bentuk motif dan pewarnaan yang khas, yaitu bentuk motif yang tidak berangkai (ceplok-ceplok) dan berdiri sendiri-sendiri.
Pemberian nama pada motif batik Jambi, diberikan pada setiap satu bentuk motif, seperti motif bunga melati, motif bungo tanjung, motif riang-riang dan sebagainya. Jadi bukan diberikan pada suatu rangkaian bentuk dari berbagai unsur atau elemen yang telah di desain sedemikian rupa yang telah menjadi satu kesatuan yang utuh kemudian baru diberi nama. 
Adapun motif batik Jambi yang hingga saat ini masih bisa dirangkum adalah sebagai berikut :
1. Motif wayang Gengseng
2. Motif bungo Durian
3. Motif Keris
4. Motif pucuk Rebung
5. Motif tabor titik
6. Motif Potong Intan
7. Motif tabor bengkok
8. Motif Siput
9. Motif Kepiting
10. Motif Ikan
11. Motif Bungo Tanjung
12. Motif Jangkar
13. Motif Daun Kangkung 
14. Motif Riang-riang
15. Motif Bungo Matahari 
16. Motif Kaca Piring 
17. Motif Kepak Lepas 
18. Motif Taritang 
19. Motif Bungo Pauh 
20. Motif Bungo Melati
21. Motif Bungo Jatuh
22. Motif Kapal Sanggat 
23. Motif Tagapo 
24. Motif Antalas
25. Motif Keluk Paku
26. Motif Keladi Durian Pecah
27. Motif Biji Timun
28. Motif Ancak 
29. Motig Bungo Cengkeh
30. Motif Merak ngeram 
31. Motif Ayam Lepas
32. Motif Galo-galo 
33. Motif Bungo Bintang
34. Motif Bungo Lumut 
35. Motif tampuk Manggis
36. Motif Bungo Rambat 
37. Motif Patola
38. Motif Kuao berhias 
39. Motif Kaligrafi

Rangkuman nama-nama motif ini diperoleh dari data koleksi batik Museum Negeri Jambi pada tahun 1994/1995.
Pertumbuhan dan perkembangan batik Jambi pada masa sekarang memberi dampak yang sangat baik bagi penambahan perbendaharaan motif batik Jambi. Diantara penambahan perbendaharaan motif Jambi sebagai ciptaan masa kini oleh para designer motif batik Jambi adalah sebagai berikut :

1. Motif angso duo 
2. Motif keris siginjai 
3. Motif kerang 
4. Motif sungai batanghari 
5. Motif Daun keladi 
6. Motif kajang lako
7. Motif incung
8. Motif cendawan
9. Motif bungo kopi
10. Motif sapit udang
11. Motif Anggur

Dari kebanyakan motif diatas lebih didominasi hiasan ragam berupa bunga dan daun yang akan mendekatkan kepada unsur alam melayu Jambi. Seolah tak habis disana, tak habis hanya sampai di motif saja. Ada juga hal-hal menarik yang perlu dicermati dalam memaknai batik Jambi, sekaligus memaknai Indonesia.
Gambar motif yang melekat pada batik Jambi merupakan wujud-sadar dari watak dan karakter masyarakat melayu Jambi. Ya, tipikal orang melayu Jambi adalah sederhana, egaliter dan terbuka terhadap budaya luar, namun agak lamban merespon perubahan. Tipikal ini dilukiskan dengan sangat apik dengan menampilkan unsur-unsur yang tak rumit dan fleksibel ditiap motifnya.


Pertama, Motif Durian Pecah menggambarkan dua bagian kulit durian yang terbelah, tapi masih beertautan pada pangkal tangkainya. Dua belah kulit itu memiliki makna pada masing-masing bagiannya. Belahan pertama bermakna pondasi iman dan takwa. Bagian kedua lebih bernuansa ilmu pengetahuan dan teknologi. Makna yang dapat ditangkap disini adalah, pada motif Durian Pecah, adalah segala pekerjaan mesti dilandasi oleh iman dan takwa serta ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuannya agar pekerjaan itu mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan.
Kedua, Motif Tampuk Manggis, melukiskan penampang buah manggis yang terbelah pada bagian tengahnya, menampakkan kulit luar, daging kulit, dan isi buah secara keseluruhan. Ilustrasi ini bermakna kebaikan budi pekerti, kehalusan akhlak, dan kebaikan hati tak dapat dilihat dari kulit luarnya saja.





Ketiga, Motif Kapal Sanggat, mengisyaratkan keharusan untuk berhati-hati dalam menjalankan sesuatu pekerjaan. Tidak boleh lalai dalam melaksanakan tugas, selalu waspada dan paham aturan. karena kelalaian dalam pekerjaan akan menyebabkan musibah dan mala petaka bagi yang si pekerja.






Keempat, Motif Kuao Berhias menggambarkan seekor burung Kuao yang tengah bercermin sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Makna yang terkandung adalah sebagai pengenalan diri. Dalam penjabarannya, kembangan kepakan dan bagian lain dari tubuh burung ini merupakan pantulan cermin yang memperlihatkan siburung tengah berhias. Dengan bercermin dan introspeksi diri daapat diketahui bagianbagian tubuh, keleihan dan  kekurangan termasuk hal spiritual. Pada manusia, dengan mengenal diri sendiri diharapkan mampu menutup atau menyempurnakan bagian-bagian yang kurang pantas termasuk berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitar.
Hingga kini, satu-satunya ciri khas khas motif Jambi yang dapat dipertanggungjawabkan orisinalitas keberadaan adalah kesederhanaan bentuk dan kemandirian objek motif tersebut. Motif batik Jambi berdiri sendiri, tak berangkai dan merangkai, terlepas dari yang lainnya, sehingga banyak ruang kosong didalamnya. Pada batik Jambi ruang kosong itu biasanya diber isian ragam hiasan berupa bentuk tabur titik.

Penghargaan di tingkat Nasional

Kini batik Jambi telah menjadi salah satu komoditi unggulan daerah Jambi, selain telah dapat membantu pemerintah daiam menanggulangi pengangguran, juga telah mendapat penghargaan baik dari masyarakat daerah maupun tingkat nasional. Dalam perjalanannya, batik Jambi telah beberapa kali mendapat penghargaan di tingkat nasional yaitu :
  1. Upakarti tahun 1988 atas nama "Batik Relita"( H. Amran Abdullah )
  2. Upakarti tahun 1990 atas nama "Batik Nova"( Yuliawati }
  3. Upakarti tahun 1993 atas nama Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi Jambi (Hj. Lily Abdurrahman Sayoeti )
  4. Upakarti tahun 1994 atas nama "Batik Mawarda"( Hj. Juriah ).
di dapat dari Blog Jambi Kota Sebrang

Bahasa Daerah Jambi nyaris Punah?

Dulu sewaktu di Jambi, saya termasuk pengguna Gila bahasa Jambi. bahkan saat diskusi di kampus dulu, terkadang saya mencampur adukkan bahasa inggris dengan bahasa Jambi. setelah berada di kampung orangpun tak pelak bahasa Jambi tetap menjadi bahasa kebanggaan karena bagi saya Bahasa Ibu yang satu itu sudah begitu melekat dengan Lidah saya, mempengaruhi dialek saya dan selalu jadi buah bibir dalam percakapan saya. Bahkan saat bercakap-cakap menggunakan bahasa Indonesia sekalipun, Bahasa Jambi masih terselip di antaranya. Kebanggaan saya terhadap bahasa saya terkadang menyulitkan saya menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa Jambi nyaris tidak berbeda dengan Bahasa indonesia hanya saja senantiasa berakhiran O (sama seperti bahasa malaysia yang berakhiran E)
Karena Inbuhan O ini, bahasa Jambi terdengar agak Kasar ( merujuk kepada salah seorang teman di kemah PTAI bagi para Praja Muda Karana di tahun 2008/2009, salah seorang teman yang merupakan Kandidat dari Solo terkejut mendengar bagaimana sesama anak Jambi berinteraksi. bagi mereka kami terdengar seperti orang yang selalu marah-marah, padahal suara kerasa adalah bentuk excitement dalam berbahasa dan logat O menambahkan  kesan'beringas'  itu)

Ketika berada di daerah, kok bahasa Gue dan Elo itu kayaknya gaul banget yah? ternyata setelah saya mencoba sendiri, malah bahasa Jambi jauh lebih Gaul di bandingkan dengan Gue, dan eLo. Penggunaan Bahasa *wak, *jok, *bele atau *Kanji lebih saya nikmati di bandingkan bahasa Gaul yang terkenal di Indonesia melalui sinetron ABG di tipi itu. *pontelpalakbarbie
2006 adalah pertama kalinya saya melangkah ke Jakarta seorang diri, pada saat itu adalah saat dimana saya merasa sendiri. seperti tidak Ada orang Jambi di Ibu Kota. Setiap kali kawan datang dan bertanya asal saya dari Mana, (dan setelah saya jawab dari Jambi)  mereka akan lanjut mengeluarkan pertanyaan kedua; "Jambi dimana ya? di sulawesi ya?"
Tapi beberapa tahun kemudian saya mulai tau bahwa Jambi cukup di kenal di Jakarta barat dimana banyak tetua, kawan dan sodara yang tinggal disana. sayapun bertemu dengan beberapa kawan lama di sini. Sungguh senangnya hati saya karena saya bisa menghidupkan kembali kerinduan saya terhadap Jambi. Tapi pada kenyataanya, mereka tetap enggan berbahasa Jambi.
Salah seorangkawan dari Jambi bertemu dengan saya di Xtrans sewaktu kita bersama-sama ingin melaju ke bandara dari BSD. awalnya tidak saling kenal, lalu beliau  bertanya pada saya, Mau kemana. dengan enteng saya menjawab "mudik ke Jambi!" meskipun dalam hati saya, dia mungkin gak akan tau dengan Jambi. Tapi saat dia mengeluarkan Statement; "gw dari Jambi juga!" alangkah senangnya hati saya. setelah itu saya berusaha menjawab dengan bahasa Jambi juga untuk melanjutkan percakapan yang lebih Akrab. Tapi apa mau di Kata, teman saya ini menolak menggunakan bahsa Jambi. Bagi saya, menolak berbahsa Jambi (jika kamu orang Jambi) sama artinya dengan menolak keakraban persaudaraan yang saya tawarkan.
Di Komplek perumahan dimana saya tinggal bersama orang tua pun, tidak sedikit pemuda-pemudi yang kuliah nun Jauh di pulau Jawa. Tapi terkadang, mereka bahkan tidak berbahasa Jambi di Kampung sendiri, merasa sudah menjadi orang kota sehingga meninggalkan bahasa Jambi dan menggantikannya dengan Bahasa Indonesia atau jika perlu bahasa Inggris saat bercakap-cakap dengan orang Jambi. miris ya? (Dak cool be lah!)
Tapi di suatu hari, mengenang Perjalanan saya di Malaysia (Waktu itu saya mengejar-ngejar seorang musisi prancis, Hugo d'C demi belajar Tabla dan Flamenco), dalam perjalanan di KLIA saya bertemu dengan seorang abang-abang yang bertanya, "orang Indonesia ya?" hingga akhirnya sampai ke percakapan di daerah asal bahwa saya adalah orang Jambi. dan beliau langsung nyerocos menggunakan bahasa melayu Jambi dengan senangnya. saat itu saya merasa tidak sendiri. sangat menyenangkan mendengar orang lain berbahasa ibu yang sama dengan kita di negri Orang, bukan?
Tapi walau bagaimanapun, kebanggaan terhadap bahasa Jambi sangat tipis. beberapa Kawan malah dengan bangganya menggunakan bahsa Indonesia di kehidupan sehari-hari (padahal komunitasnya Jambi-jambi juga) untuk menunjukkan seolah-olah mereka adalah kaum intelektual, Padahal bagi saya Intelek adalah orang yang dengan bangga menunjukkan kedaerahannya. Yang dengan bangga berbahasa Bahasa ibunya di antara orang-orang yang berbahasa Inggris sekalipun. Yang dengan Bangga menyebutkan, : "Sayo dari Jambi!"

Bagi teman-teman yang berasal dari daerah luar yang ingin sedikit belajar berbahasa Jambi, berikut beberapa kosakata yang tidak di gunakan dalam bahasa Indonesia: (Di dapat dari Sumber berikut)
 kosakata Aneh:
Wak (Awak )=  Kamu
Jok = Panggilan untuk kawan dalam bahasa Jambi
bele = bodoh
Kanji = Centil
Pontel = patah atau lepas

Bahaso Jambi Kota
 Bahasa Indonesia


A

Aek
Aek Sahi
Aya, Ba', 

Air
Air Teh
Bapak, Ayah

B

Babasuan
Batreak
Babelok
Bada
Babala
Baladas
Balang
Balarak
Balepetan, Bahelet-heletan
Baroyat
Bebaso
Becak, becek
Beleret
Bengen
Berak
Bolong
Buah Peci, Ekal
Bucu
Budak
Blambun
Brosongan

Mencuci
memanggil
Berbalik Arah
Wadah
Bertengkarn Pengantin
Sepuasnya, sesuka-sukanya
Roda
Arak-arakan pengantin
Berceceran
Cerito
Berbahasa
Becek
Berderet
Lama, Kuno
Buang Air Besar
Berlubang
Kelereng
Sudut , Pojok
Anak
Banyak
Tempramen

C

Campak
Ceper

Jatuh
Hidangan

D

Dak Katek
Dalu
Dedat
Dewek

Tidak Ada
Malam
Sering
Sendiri 

E



F



G

Garang

Galo
Gawe
Gerobok

Ruangan Tanpa Atap Dan Diberi Dinding Setengah Biasa Tempat Mencuci Dan Menjemur Pakaian
Semua
Kerja
Lemari

H



I

Iko, Siko
Itam Muam

Ini, Sini
Hitam Pekat
J

Jaramba
Jarit Lap

Jembatan 
Kain Lap

K

Kaco/Kacau
Kajang
Kantong Asoy
Kagi, Klagi, Kagek
Katik/Katek
Kca', Kecak
Kedeboran
Kek Mano
Kempot
Kenyok
Kenyot
Kereta
Kiniki/Kinitu
Kinjang-kinjang
Kojek
Kongsi
Koyak Rabak
Kpek
Kulum/Bon-Bon

Aduk
Ukuran Kertas Karton
Kantong Plastik/Keresek
Nanti
Ada
Ikat Pinggang
Kebesaran (pakaian yang kebesaran)
Macam Mano
Penyok
Bukan 
Miring
Sepeda 
Sekarang
Capung
Botak , Gundul 
Gabungan. Bergabung
Sobek , Robek
Dompet 
Permen

L

Lanse
Lekok Lebing
Lobok

Lokek

Gorden 
Permukaan Yg Kurang Rata
Sesuatu yang terlalu kecil jika dimasukkan kedalam lobang/rongga
Pelit/ Kikir

M

Menung
Mokte, mokyu, moknga
mekdo, mekte, mekning
Motorpet, Honda
Mutar
Mutur

Termenung 
panggilan untuk kakak perempuan
Panggilan untuk bibi atau tante
Kendaraan Roda Dua 
Berputar
Sarapan Pagi

N

Ngapo
Nyombong Handar
Ngarayau

Kenapa
Bohong Terus
Jalan-jalan

O



P

Pacul, Ucul
Padek
Pakdo/Pakcik
Payo, payu
Payo
Pelimbahan
Pinggan
Pokel
Pongkang
Pucat Lesi

Lepas
Pandai, Pintar
Sebutan untuk Paman yang lebih muda
Ayo
Rawa
Comberan 
Piring 
Lepas 
Lempar 
Kondisi Dalam Ketakutan

Q



R

Roban

Kandang

S

Sekok
Selempir
Semak Mamun
Sorontu, Sariantu, Semalam, soretu
Sroal, Seroal
Sudu
Suruk Pancit

Satu 
Selembar 
Berantakan tidak terawat
Kemarin 
Celana 
Sendok 
Petak Umpet

T

Takalik,Takirap
Takucil
Tajunte, Tajolor
Tapangging
Tecirit, Tekincit
Taruntun
Tempong
Tungku

Tumpah 
Tercecer
Sesuatu yang tergantung
Kandas
Mendadak Buang Air Besar
Turun
Lempar 
Tempat Masak

U

Umo, Kumo.

Sawah

VWXYZ

 

Quotes

“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.”
Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara