Wattpad

Showing posts with label gegar budaya. Show all posts
Showing posts with label gegar budaya. Show all posts

Maksubah bukan dari Jepang (Panganan yang menentukan status sosial seseorang)

Sekilas Namanya agak jepang-jepangan ya. Maksubah, kedengaranya agak japanese kaya tsubasa yang ada di komik-komik itu. hahahaha
Saya kemarin duduk bercakap-cakap dengan Mbak Rhaina yang suaminya orang Palembang. (Kalau palembang+Jambi ketemu pasti Heboh, secaraaa...makanannya sebelas dua belas, bahasanya mirip pulak. kalau ngerumpi, sekampung wajib denger karena Jambi dan Palembang sama-sama intense dalam percakapan sehari-hari)--Gak nyangka selama di rantau ada orang yang bisa di ajak ngerumpi soal Makanan--hal yang paling saya rindukan dari kampung halaman. Kala itu kita bicara mulai dari hidung saya yang Mampet. biasanya kalau udah mulai pilek saya mulai pengen makan tekwan* pedes-pedes. Mang Jaja di simpang Pulai tempat favorite saya di jambi. selain tekwannya OK, yang punya juga ramah sekali. hampir setiap ada uang lebih saya selalu mampir kesana. ada sih tempat lain yang memang lebih enak. Tapi ke sreg-an saya terhadap makanan bukan hanya dari rasa. 
Lama-lama obrolan kita merembet ke Maksuba. Maksuba ini salah satu makanan khas melayu juga selain tempoyak. bahan pokoknya mudah kok. Telur+ gula. beberapa orang menambahkan tepung dalam pembuatannya, tapi kalau saya yang buat, saya cendrung tidak menambahkan tepung sama sekali sehingga rasanya lebih berat dan lebih nikmat. maksuba yang di campur tepung biasanya lebih ringan dan kering. sedangkan maksuba yang hanya dibuat dengan telur dan gula saja, cendrung basah dan lengket. sewaktu di awal perkuliahan di mulai, saya pernah meminta ibu saya mengajari saya bagaimana cara membuat Maksuba. masa itu ibu mengerjai saya, Jadilah saya membuat Maksuba manual dengan arang dari batok kelapa. sedangkan dengan oven saja bisa. Jadi saya mengerti mengapa Maksuba harganya mahal. pembuatannya begitu susah payah dan saya harus bergosong-gosong ria duduk di depan Api ber-jam-jam, menjaga Nyala Api. selapis demi selapis...(alah maaak kenangan Indah)

maksuba yang ini tampaknya di buat dengan tepung. didapat dari google

Maksubah adalah faktor utama yang menyebabkan berat badan saya naik lebih dari lima kilogram setiap idl fitri datang. padahal prestasi sekali kalau saya bisa menurunkan sekitar 3 kg selama bulan puasa. tapi setelah lebaran, kenaikannya lebih besar dari penurunan. tubuh saya pun semakin-semakin-semakin dan semakin semok dari tahun ke tahun.
Ceritanya mbak Raina mau di kirimi mertuanya Maksubah dari Palembang. saya pun ngedumel kalau Maksubah di Jambi kebanyakan di temui waktu lebaran. kalau sudah memasuki masa-masa Idl Fitri, setiap rumah berlomba-lomba membuat Maksuba. konon Maksuba menentukan status sosial seseorang. cara mereka menyajikanpun juga mempengaruhi, warnapun juga ikut-ikutan. Ajaib gak? 
Apa iya penyajian maksubah pada hari raya menentukan status sosial seseorang? 
Sewaktu saya kecil, penyaji Maksuba ini adalah keluarga-keluarga Melayu yang berada. tidak semua rumah menyajikan Maksuba pada masa itu karena biaya bahan bakunya yang tergolong mahal. modal pembuatan seloyang maksuba bisa menghabiskan seratus-beratus-ratus ribu rupiah. kelembutan, tekstur dan komponen yang terdapat di dalamnya (apa itu komponen? memangnya pesawat terbang?) juga menentukan status sosial.
Rumah yang menyajikan Maksubah dari satu jenis (dalam kategori warna dan rasa, pembuatan seloyang Maksuba memaksa adonan di bagi dua. biasanya untuk memberikan kesan berlapis. setelah di bagi dua, salah satu adonan bisanya di bubuhkan perisa dan pewarna sehingga Maksubah tampa begitu cantik) biasanya status sosialnya tidak lebih tinggi dari yang menyajikan dua jenis maksuba dalam sekali waktu. 
Misalnya nih, saya berkunjung ke rumah salah seorang Datuk yang punya banyak tanah, mereka menyajikan maksuba coklat, Pandan dan Kuning dalam satu waktu dan penyajian biasanya terkesan boros, (untuk satu jenis Maksubah di sajikan lebih dari satu piring saji) dan yang melahap apa lagi (hahaha. kapan lagi, makan kue mahal gratis)
Bagi keluarga saya, dulu menyajikan seloyang maksubah saja sudah cukup. itupun penyajiannya di hemat, hanya di keluarkan untuk tamu-tamu penting saja. jika di sebuah Hari Raya keuangan keluarga tidak memadai, kami tidak menyajikan Maksuba sama sekali. siapa yang gila menyajikan Maksuba sedangkan seloyang Maksuba sama nilainya dengan 7 Toples besar kue mentega? seloyang Maksuba tidak bisa di keluarkan setiap saat sedangkan & toples kue mentega, bisa di santap oleh siap saja dalam waktu lima hari. 
Belakangan saat keuangan keluarga membaik, Ibu tetap menyajikan satu loyang (mengingat loyang lainnya di santap kedua anaknya dengan brutal. saya dan Dan adik saya, Kurnia adalah penggila makanan Manis. Tapi saya makan Tanpa Batas, berbeda dengan adik saya yang cukup dengan lima potong dan muntah jika di paksakan makan sampai potongan ke delapan). 
Saat ini Maksuba masih tergolong kue Mahal, namun setiap rumah bisa saja menyajikannya. Semenjak Maksuba sudah bisa di masak dengan Oven, harganyapun menurun. Maksubah bisa di beli dengan harga seratus atau dua ratus ribu saja. Tapi dengan harga segitu, untuk seloyang Kue bagi saya masih tetap mahal. dua ratus ribu bahkan tidak akan bisa memuaskan perut saya sendiri. hihihi

Be-Batik Jambi

Empat wanita asal Tennessee, Amerika Serikat belajar membatik
Di Kreasi Batik Asmah,
Milik Azmiah di Jl H Somad No 41, Olak Kemang, Danau Teluk Jambi



Batik sebagai warisan budaya Indonesia telah mendapat pengakuan dunia dengan ditetapkannya Batik sebagai warisan budaya Indonesia dan benda milik Bangsa Indonesia oleh Badan Dunia PBB UNESCO 2 Oktober 2009. Sehingga tanggal 2 Oktober diperingati sebagai Hari Batik Nasioanal.
Sejarah 
Kain batik dibawa dan diperkenalkan pertama kali di daerah Jambi oleh Haji Muhibat pada tahun 1875. Saat itu, ia berserta keluarganya datang dari Jawa Tengah untuk menetap di Jambi. Pada masa itu produksi batik Jambi dan perdagangannya secara terbatas pada kaum bangsawan dan raja Melayu Jambi sebagai pakaian adat. Motifnya pun masih sangat terbatas, bercorak ukiran seperti yang ada pada rumah adat Jambi. Di masa ini batik Jambi merupakan hasil karya seni yang tidak dapat dimiliki oleh sembarang orang. Batik Jambi di konsumsi hanya oleh masyarakat yang mempunyai tingkat kehidupan sosial yang tinggi, misalnya kerabat kerajaan atau kaum bangsawan. Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi, kebutuhan akan batik Jambi menurun secara drastis, sehingga jarang ditemukan ada pengrajin batik Jambi. kalaupun ada, pengrajin itu sudah tua.
Pada zaman penjajahan Belanda, berita tentang batik Jambi marak kembali dengan munculnya berbagai artikel yang ditulis oleh penulis berkebangsaan Belanda. Salah satunya adalah B.M. Gosligs yang dalam artikelnya mengatakan bahwa atas persetujuan Prof. Vam Eerde dia meminta residen Jambi Tuan H.E.K. Ezermenn untuk meneliti batik Jambi. Sekitar bulan oktober 1928 datang tanggapan dari Ezernann, bahwa di dusunkampung Tengah (kelurahan Tengah) pada waktu itu memang sesungguhnya ada pengrajin batik dan menghasilkan karya-karya seni batik yang Indah. (B.M Goslings halaman 1411)
Dari keterangan di atas, sejak zaman Kesultanan, zaman Belanda, zaman Kemerdekaan di Jambi memang terdapat seni batik, walaupun produksi dan pemakaiannya masih terbatas. Setelah zaman orde baru terutama sejak tahun 80-an hingga sekarang, perkembangan batik Jambi sangat pesat sekali. Pembinaan terhadap sanggar-sanggar batik, dilakukan secara intensif dan massal. Pemakaian batik Jambi tidak lagi terbatas pada kalangan-kalangan tertentu tetapi sudah memiliki kebebasan. Batik Jambi menjadi milik masyarakat dan kebanggaan bangsa Indonesia dan dikenal bukan hanya di Indonesia tetapi sampai ke manca Negara.
Nama-nama Motif Batik Jambi
Batik Jambi memiliki ciri khas yang unik dan eksotis. Baik dari segi warna maupun motifnya sediri. Sebagian besar pewarnaan batik Jambi diambil dari bahan-bahan alami yang ada di alam sekitar Jambi, yaitu campuran dari aneka ragam kayu dan tumbuh-tumbuhan, seperti :
  • Kayu Sepang menghasilkan warna kuning kemerahan.
  • Kayu Ramelang menghasilkan warna merah kecokelatan.
  • Kayu Lambato menghasilkan warna kuning.
  • Kayu Nilo menghasilkan warna biru.
  • dsb
Motif batik Jambi sebagian besar diambil dari bentuk flora dan fauna, sebagai mana motif batik yang terdapat di Indonesia pada umumnya. Namun dilihat dari bentuk motif corak dan pewarnaannya, batik Jambi memiliki perbedaan signifikan dibandingkan dengan batik yang ada di daerah lain.
Keunikan seni batik Jambi terletak pada kesederhanaan bentuk motif dan pewarnaan yang khas, yaitu bentuk motif yang tidak berangkai (ceplok-ceplok) dan berdiri sendiri-sendiri.
Pemberian nama pada motif batik Jambi, diberikan pada setiap satu bentuk motif, seperti motif bunga melati, motif bungo tanjung, motif riang-riang dan sebagainya. Jadi bukan diberikan pada suatu rangkaian bentuk dari berbagai unsur atau elemen yang telah di desain sedemikian rupa yang telah menjadi satu kesatuan yang utuh kemudian baru diberi nama. 
Adapun motif batik Jambi yang hingga saat ini masih bisa dirangkum adalah sebagai berikut :
1. Motif wayang Gengseng
2. Motif bungo Durian
3. Motif Keris
4. Motif pucuk Rebung
5. Motif tabor titik
6. Motif Potong Intan
7. Motif tabor bengkok
8. Motif Siput
9. Motif Kepiting
10. Motif Ikan
11. Motif Bungo Tanjung
12. Motif Jangkar
13. Motif Daun Kangkung 
14. Motif Riang-riang
15. Motif Bungo Matahari 
16. Motif Kaca Piring 
17. Motif Kepak Lepas 
18. Motif Taritang 
19. Motif Bungo Pauh 
20. Motif Bungo Melati
21. Motif Bungo Jatuh
22. Motif Kapal Sanggat 
23. Motif Tagapo 
24. Motif Antalas
25. Motif Keluk Paku
26. Motif Keladi Durian Pecah
27. Motif Biji Timun
28. Motif Ancak 
29. Motig Bungo Cengkeh
30. Motif Merak ngeram 
31. Motif Ayam Lepas
32. Motif Galo-galo 
33. Motif Bungo Bintang
34. Motif Bungo Lumut 
35. Motif tampuk Manggis
36. Motif Bungo Rambat 
37. Motif Patola
38. Motif Kuao berhias 
39. Motif Kaligrafi

Rangkuman nama-nama motif ini diperoleh dari data koleksi batik Museum Negeri Jambi pada tahun 1994/1995.
Pertumbuhan dan perkembangan batik Jambi pada masa sekarang memberi dampak yang sangat baik bagi penambahan perbendaharaan motif batik Jambi. Diantara penambahan perbendaharaan motif Jambi sebagai ciptaan masa kini oleh para designer motif batik Jambi adalah sebagai berikut :

1. Motif angso duo 
2. Motif keris siginjai 
3. Motif kerang 
4. Motif sungai batanghari 
5. Motif Daun keladi 
6. Motif kajang lako
7. Motif incung
8. Motif cendawan
9. Motif bungo kopi
10. Motif sapit udang
11. Motif Anggur

Dari kebanyakan motif diatas lebih didominasi hiasan ragam berupa bunga dan daun yang akan mendekatkan kepada unsur alam melayu Jambi. Seolah tak habis disana, tak habis hanya sampai di motif saja. Ada juga hal-hal menarik yang perlu dicermati dalam memaknai batik Jambi, sekaligus memaknai Indonesia.
Gambar motif yang melekat pada batik Jambi merupakan wujud-sadar dari watak dan karakter masyarakat melayu Jambi. Ya, tipikal orang melayu Jambi adalah sederhana, egaliter dan terbuka terhadap budaya luar, namun agak lamban merespon perubahan. Tipikal ini dilukiskan dengan sangat apik dengan menampilkan unsur-unsur yang tak rumit dan fleksibel ditiap motifnya.


Pertama, Motif Durian Pecah menggambarkan dua bagian kulit durian yang terbelah, tapi masih beertautan pada pangkal tangkainya. Dua belah kulit itu memiliki makna pada masing-masing bagiannya. Belahan pertama bermakna pondasi iman dan takwa. Bagian kedua lebih bernuansa ilmu pengetahuan dan teknologi. Makna yang dapat ditangkap disini adalah, pada motif Durian Pecah, adalah segala pekerjaan mesti dilandasi oleh iman dan takwa serta ditunjang oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Tujuannya agar pekerjaan itu mendapatkan hasil yang maksimal dan memuaskan.
Kedua, Motif Tampuk Manggis, melukiskan penampang buah manggis yang terbelah pada bagian tengahnya, menampakkan kulit luar, daging kulit, dan isi buah secara keseluruhan. Ilustrasi ini bermakna kebaikan budi pekerti, kehalusan akhlak, dan kebaikan hati tak dapat dilihat dari kulit luarnya saja.





Ketiga, Motif Kapal Sanggat, mengisyaratkan keharusan untuk berhati-hati dalam menjalankan sesuatu pekerjaan. Tidak boleh lalai dalam melaksanakan tugas, selalu waspada dan paham aturan. karena kelalaian dalam pekerjaan akan menyebabkan musibah dan mala petaka bagi yang si pekerja.






Keempat, Motif Kuao Berhias menggambarkan seekor burung Kuao yang tengah bercermin sambil mengepak-ngepakkan sayapnya. Makna yang terkandung adalah sebagai pengenalan diri. Dalam penjabarannya, kembangan kepakan dan bagian lain dari tubuh burung ini merupakan pantulan cermin yang memperlihatkan siburung tengah berhias. Dengan bercermin dan introspeksi diri daapat diketahui bagianbagian tubuh, keleihan dan  kekurangan termasuk hal spiritual. Pada manusia, dengan mengenal diri sendiri diharapkan mampu menutup atau menyempurnakan bagian-bagian yang kurang pantas termasuk berinteraksi sosial dengan masyarakat sekitar.
Hingga kini, satu-satunya ciri khas khas motif Jambi yang dapat dipertanggungjawabkan orisinalitas keberadaan adalah kesederhanaan bentuk dan kemandirian objek motif tersebut. Motif batik Jambi berdiri sendiri, tak berangkai dan merangkai, terlepas dari yang lainnya, sehingga banyak ruang kosong didalamnya. Pada batik Jambi ruang kosong itu biasanya diber isian ragam hiasan berupa bentuk tabur titik.

Penghargaan di tingkat Nasional

Kini batik Jambi telah menjadi salah satu komoditi unggulan daerah Jambi, selain telah dapat membantu pemerintah daiam menanggulangi pengangguran, juga telah mendapat penghargaan baik dari masyarakat daerah maupun tingkat nasional. Dalam perjalanannya, batik Jambi telah beberapa kali mendapat penghargaan di tingkat nasional yaitu :
  1. Upakarti tahun 1988 atas nama "Batik Relita"( H. Amran Abdullah )
  2. Upakarti tahun 1990 atas nama "Batik Nova"( Yuliawati }
  3. Upakarti tahun 1993 atas nama Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi Jambi (Hj. Lily Abdurrahman Sayoeti )
  4. Upakarti tahun 1994 atas nama "Batik Mawarda"( Hj. Juriah ).
di dapat dari Blog Jambi Kota Sebrang

Bahasa Daerah Jambi nyaris Punah?

Dulu sewaktu di Jambi, saya termasuk pengguna Gila bahasa Jambi. bahkan saat diskusi di kampus dulu, terkadang saya mencampur adukkan bahasa inggris dengan bahasa Jambi. setelah berada di kampung orangpun tak pelak bahasa Jambi tetap menjadi bahasa kebanggaan karena bagi saya Bahasa Ibu yang satu itu sudah begitu melekat dengan Lidah saya, mempengaruhi dialek saya dan selalu jadi buah bibir dalam percakapan saya. Bahkan saat bercakap-cakap menggunakan bahasa Indonesia sekalipun, Bahasa Jambi masih terselip di antaranya. Kebanggaan saya terhadap bahasa saya terkadang menyulitkan saya menggunakan bahasa Indonesia karena bahasa Jambi nyaris tidak berbeda dengan Bahasa indonesia hanya saja senantiasa berakhiran O (sama seperti bahasa malaysia yang berakhiran E)
Karena Inbuhan O ini, bahasa Jambi terdengar agak Kasar ( merujuk kepada salah seorang teman di kemah PTAI bagi para Praja Muda Karana di tahun 2008/2009, salah seorang teman yang merupakan Kandidat dari Solo terkejut mendengar bagaimana sesama anak Jambi berinteraksi. bagi mereka kami terdengar seperti orang yang selalu marah-marah, padahal suara kerasa adalah bentuk excitement dalam berbahasa dan logat O menambahkan  kesan'beringas'  itu)

Ketika berada di daerah, kok bahasa Gue dan Elo itu kayaknya gaul banget yah? ternyata setelah saya mencoba sendiri, malah bahasa Jambi jauh lebih Gaul di bandingkan dengan Gue, dan eLo. Penggunaan Bahasa *wak, *jok, *bele atau *Kanji lebih saya nikmati di bandingkan bahasa Gaul yang terkenal di Indonesia melalui sinetron ABG di tipi itu. *pontelpalakbarbie
2006 adalah pertama kalinya saya melangkah ke Jakarta seorang diri, pada saat itu adalah saat dimana saya merasa sendiri. seperti tidak Ada orang Jambi di Ibu Kota. Setiap kali kawan datang dan bertanya asal saya dari Mana, (dan setelah saya jawab dari Jambi)  mereka akan lanjut mengeluarkan pertanyaan kedua; "Jambi dimana ya? di sulawesi ya?"
Tapi beberapa tahun kemudian saya mulai tau bahwa Jambi cukup di kenal di Jakarta barat dimana banyak tetua, kawan dan sodara yang tinggal disana. sayapun bertemu dengan beberapa kawan lama di sini. Sungguh senangnya hati saya karena saya bisa menghidupkan kembali kerinduan saya terhadap Jambi. Tapi pada kenyataanya, mereka tetap enggan berbahasa Jambi.
Salah seorangkawan dari Jambi bertemu dengan saya di Xtrans sewaktu kita bersama-sama ingin melaju ke bandara dari BSD. awalnya tidak saling kenal, lalu beliau  bertanya pada saya, Mau kemana. dengan enteng saya menjawab "mudik ke Jambi!" meskipun dalam hati saya, dia mungkin gak akan tau dengan Jambi. Tapi saat dia mengeluarkan Statement; "gw dari Jambi juga!" alangkah senangnya hati saya. setelah itu saya berusaha menjawab dengan bahasa Jambi juga untuk melanjutkan percakapan yang lebih Akrab. Tapi apa mau di Kata, teman saya ini menolak menggunakan bahsa Jambi. Bagi saya, menolak berbahsa Jambi (jika kamu orang Jambi) sama artinya dengan menolak keakraban persaudaraan yang saya tawarkan.
Di Komplek perumahan dimana saya tinggal bersama orang tua pun, tidak sedikit pemuda-pemudi yang kuliah nun Jauh di pulau Jawa. Tapi terkadang, mereka bahkan tidak berbahasa Jambi di Kampung sendiri, merasa sudah menjadi orang kota sehingga meninggalkan bahasa Jambi dan menggantikannya dengan Bahasa Indonesia atau jika perlu bahasa Inggris saat bercakap-cakap dengan orang Jambi. miris ya? (Dak cool be lah!)
Tapi di suatu hari, mengenang Perjalanan saya di Malaysia (Waktu itu saya mengejar-ngejar seorang musisi prancis, Hugo d'C demi belajar Tabla dan Flamenco), dalam perjalanan di KLIA saya bertemu dengan seorang abang-abang yang bertanya, "orang Indonesia ya?" hingga akhirnya sampai ke percakapan di daerah asal bahwa saya adalah orang Jambi. dan beliau langsung nyerocos menggunakan bahasa melayu Jambi dengan senangnya. saat itu saya merasa tidak sendiri. sangat menyenangkan mendengar orang lain berbahasa ibu yang sama dengan kita di negri Orang, bukan?
Tapi walau bagaimanapun, kebanggaan terhadap bahasa Jambi sangat tipis. beberapa Kawan malah dengan bangganya menggunakan bahsa Indonesia di kehidupan sehari-hari (padahal komunitasnya Jambi-jambi juga) untuk menunjukkan seolah-olah mereka adalah kaum intelektual, Padahal bagi saya Intelek adalah orang yang dengan bangga menunjukkan kedaerahannya. Yang dengan bangga berbahasa Bahasa ibunya di antara orang-orang yang berbahasa Inggris sekalipun. Yang dengan Bangga menyebutkan, : "Sayo dari Jambi!"

Bagi teman-teman yang berasal dari daerah luar yang ingin sedikit belajar berbahasa Jambi, berikut beberapa kosakata yang tidak di gunakan dalam bahasa Indonesia: (Di dapat dari Sumber berikut)
 kosakata Aneh:
Wak (Awak )=  Kamu
Jok = Panggilan untuk kawan dalam bahasa Jambi
bele = bodoh
Kanji = Centil
Pontel = patah atau lepas

Bahaso Jambi Kota
 Bahasa Indonesia


A

Aek
Aek Sahi
Aya, Ba', 

Air
Air Teh
Bapak, Ayah

B

Babasuan
Batreak
Babelok
Bada
Babala
Baladas
Balang
Balarak
Balepetan, Bahelet-heletan
Baroyat
Bebaso
Becak, becek
Beleret
Bengen
Berak
Bolong
Buah Peci, Ekal
Bucu
Budak
Blambun
Brosongan

Mencuci
memanggil
Berbalik Arah
Wadah
Bertengkarn Pengantin
Sepuasnya, sesuka-sukanya
Roda
Arak-arakan pengantin
Berceceran
Cerito
Berbahasa
Becek
Berderet
Lama, Kuno
Buang Air Besar
Berlubang
Kelereng
Sudut , Pojok
Anak
Banyak
Tempramen

C

Campak
Ceper

Jatuh
Hidangan

D

Dak Katek
Dalu
Dedat
Dewek

Tidak Ada
Malam
Sering
Sendiri 

E



F



G

Garang

Galo
Gawe
Gerobok

Ruangan Tanpa Atap Dan Diberi Dinding Setengah Biasa Tempat Mencuci Dan Menjemur Pakaian
Semua
Kerja
Lemari

H



I

Iko, Siko
Itam Muam

Ini, Sini
Hitam Pekat
J

Jaramba
Jarit Lap

Jembatan 
Kain Lap

K

Kaco/Kacau
Kajang
Kantong Asoy
Kagi, Klagi, Kagek
Katik/Katek
Kca', Kecak
Kedeboran
Kek Mano
Kempot
Kenyok
Kenyot
Kereta
Kiniki/Kinitu
Kinjang-kinjang
Kojek
Kongsi
Koyak Rabak
Kpek
Kulum/Bon-Bon

Aduk
Ukuran Kertas Karton
Kantong Plastik/Keresek
Nanti
Ada
Ikat Pinggang
Kebesaran (pakaian yang kebesaran)
Macam Mano
Penyok
Bukan 
Miring
Sepeda 
Sekarang
Capung
Botak , Gundul 
Gabungan. Bergabung
Sobek , Robek
Dompet 
Permen

L

Lanse
Lekok Lebing
Lobok

Lokek

Gorden 
Permukaan Yg Kurang Rata
Sesuatu yang terlalu kecil jika dimasukkan kedalam lobang/rongga
Pelit/ Kikir

M

Menung
Mokte, mokyu, moknga
mekdo, mekte, mekning
Motorpet, Honda
Mutar
Mutur

Termenung 
panggilan untuk kakak perempuan
Panggilan untuk bibi atau tante
Kendaraan Roda Dua 
Berputar
Sarapan Pagi

N

Ngapo
Nyombong Handar
Ngarayau

Kenapa
Bohong Terus
Jalan-jalan

O



P

Pacul, Ucul
Padek
Pakdo/Pakcik
Payo, payu
Payo
Pelimbahan
Pinggan
Pokel
Pongkang
Pucat Lesi

Lepas
Pandai, Pintar
Sebutan untuk Paman yang lebih muda
Ayo
Rawa
Comberan 
Piring 
Lepas 
Lempar 
Kondisi Dalam Ketakutan

Q



R

Roban

Kandang

S

Sekok
Selempir
Semak Mamun
Sorontu, Sariantu, Semalam, soretu
Sroal, Seroal
Sudu
Suruk Pancit

Satu 
Selembar 
Berantakan tidak terawat
Kemarin 
Celana 
Sendok 
Petak Umpet

T

Takalik,Takirap
Takucil
Tajunte, Tajolor
Tapangging
Tecirit, Tekincit
Taruntun
Tempong
Tungku

Tumpah 
Tercecer
Sesuatu yang tergantung
Kandas
Mendadak Buang Air Besar
Turun
Lempar 
Tempat Masak

U

Umo, Kumo.

Sawah

VWXYZ

Tempoyak (milik malaysia atau Indonesia)

Antara perdebatan Bangsa Melayu Indonesia dan Malaysia


          Sebuah kerinduan terhadap pangan Indonesia yang jarang di kenal ini membuat saya membanjiri status Facebook dengan kata "Kangen Tempoyak". Tak pelak selama saya di rantau, Tempoyak adalah makanan langka yang mahal. Tau gak sih? gak ada tempoyak di Jakarta. harga durian saja di sini begitu mahal bila di Bandingkan dengan Jambi. satu butir durian bagi saya tidaklah cukup untuk memenuhi kenikmatan semangkuk tempoyak, makanan khas Melayu.

Daging durian dalam Proses Fermentasi menjadi Tempoyak
        Tempoyak adalah makanan khas nusantara dari suku Melayu, di buat dari fermentasi durian, tempoyak memiliki cita rasa yang asam. Tempoyak ini dapat di olah menjadi beberapa masakan, terkadang bisa di makan begitu saja, namun tidak banyak orang yang sanggup untuk menikmati tempoyak tanpa di masak karena tingkat ke asamannya yang tinggi. Tapi bagi saya, Tempoyak mentah sudah cukup membuat saya menyantap sebakul nasi tanpa ada pendamping yang lain. Yah, singkat cerita, di jambi saya di juluki "Antu Tempoyak"*
       Tempoyak sudah ada sejak jaman "jebod"* bahkan sebelum mobil ada, tempoyak ini sudah ada. cara membuatnya gampang. cukup memisahkan daging durian dengan bijinya, di aduk dengan garam secukupnya dan kemudian di diamkan beberapa hari sampai daging durian agak berair. 
Tempoyak tanpa di masak
Tempoyak ikan pais (Pepes Tempoyak)

Gulai Tempoyak

Sambal Tempoyak
        Tempoyak diriwayatkan dalam Hikayat Abdullah sebagai makanan sehari-hari penduduk Terengganu. Ketika Abdullah bin Abdulkadir Munsyi berkunjung ke Terengganu sekitar tahun 1836, ia mengatakan bahwa salah satu makanan kegemaran penduduk setempat adalah tempoyak. Berdasarkan sejarah yang ada dalam Hikayat Abdullah, tempoyak merupakan makanan khas rumpun bangsa Melayu, yaitu suku bangsa Melayu di Malaysia dan Indonesia yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan. (wikipedia)
        Di jambi sendiri, tempoyak ini adalah makanan paling beken. bahkan samapai ada pemalsuan loh. saya sendiri kurang bisa membedakan mana yang tempoyak asli dengan yang enggak. bagi saya Tempoyak itu enak, aja. gak tau asli apa enggak. Menurut ibu saya, Tempoyak asli adalah yang 100% durian berkualitas bagus. sedangkan yang nggak asli di buat dari durian berkualitas rendah dan di campur tepung.
        Pernah pada masa itu ada hajatan di rumah. sekedar yasinan rutin di rumah.  saya nemenin ibu belanja. di jambi, kalau ada acara besar (bagi orang berketurunan melayu ya?) harus ada panganan yang satu itu, baru bisa di sebut hajatan. Maka ibu keliling Angso duo buat beli tempoyak dan udang. ada sebuah toko yang menjual khusus olahan durian. saat ibu nanya soal tempoyak, pemilik toko menyodorkan se galon besar tempoyak dan berkoar-koar ria mengenai keaslian tempoyak. waktu itu ibu mendekat dan hanya dengan hidungnya aja, ibu tau kalau tempoyak itu tidak asli. ibu nyaris saja pergi jika saja ia tidak mencium baul lain yang lebih menarik dan ibu bilang. "Nah yang itu yang asli!" si pemilik toko kaget, gak banyak orang bisa membedakan mana yang asli mana yang bukan. (mungkin ini bakat alami mama juga. wkwkwkwk)
          Tempoyak sendiri dapat dibikin dengan “tidak sengaja”, yaitu membiarkan buah durian masak selama 3-4 hari sampai berubah menjadi asam. Atau, dapat dibuat dengan sengaja. Pembuatan tempoyak dilakukan dengan cara memisahkan daging buah durian, lalu menghancurkannya dengan garpu. Ini adalah pembuatan tempoyak skala rumahtangga. Lalu, diberi garam, sebanyak 2% bobot daging buah.
         Garam ini ditambahkan untuk membantu pertumbuhan mikroorganisme ragi. Hanya saja, garam tidak boleh terlalu banyak dipakai, karena akan menyebabkan rasa tempoyakl menjadi asin. Padahal, tempoyak “yang benar berasa asam (Blog BUJANG LAHAT)
        Tempoyak termasuk makanan yang di perdebatkan (Selain rendang antara Malaysia dan indonesia. bagi beberapa orang yang kayaknya Nasionalis akan dengan ekstrim mengakui bawa tempoyak adalah milik mereka. Padahal, tempoyak adalah makanan bangsa Melayu tak peduli di Indonesia atau Malaysia. Jambi, Palembang, Bengkulu, Kalimantan menurut sejarah adalah bagian dari kerajaan Melayu pada masa dulunya (Saat belum ada pemisahan berdasarkan kenegaraan) Jadi menurut saya, Tempoyak adalah milik keduanya.
       Saya sendiri mecoba banyak olahan tempoyak dari berbagai daerah. dari Medan, dari padang, bengkulu, dan Kalimantan. bagi saya tetap masakan ibu sayalah yang paling enak.  (hahaha) saat saya di Malaysiapun saya juga menenggak Tempoyak dengan cita rasa yang lain lagi. ada sebuah resep Malaysia yang menyajikan tempoyak dengan santan atau dengan Petai. Hal itu merupakan sajian enak bagi bangsa melayu di malaysia tapi merupakan cita rasa asing bagi bangsa melayu Jambi, khususnya keluarga saya.
 
Baca Sekilas tentang tempoyak versi inggris? here English Version of Tempoyak

Kosakata aneh:
*Jebod = Jaman dahulu sekali
*Antu Tempoyak= Orang yang sanggup mengkonsumsi tempoyak lebih banyak dari kemampuan orang Normal
 

Quotes

“Apa boleh buat, jalan seorang penulis adalah jalan kreativitas, di mana segenap penghayatannya terhadap setiap inci gerak kehidupan, dari setiap detik dalam hidupnya, ditumpahkan dengan total, seperti setiap orang yang berusaha setia kepada hidup itu sendiri—satu-satunya hal yang membuat kita ada.”
Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara